Sabtu, 10 November 2012

Sayang, Pengkaderan Perjuangan Hanya Lahirkan Generasi Tak Berintegritas yang “Mengkhianati Kesadaran Kolektif Bangsa”

Menghadapi medan perjuangan “da'wah”, landasan realitas Sosisohistoris Indonesia yang Amat Sangat Jahiliyah 'Tak Berkeadaban' ini, untuk bisa setiap saat TERSENYUM nampaknya kita perlu "Tahan Nafas Seribu Tahun" dan " Memiliki Daya Tahan Da'wah 9 Kali Nyawa Serep".

Riset kua

litas keberislaman pada 208 negara, yang dirilis Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University - 2010, yang menempatkan Indonesia pada rangking 140, di bawah Amerika (25), Selandia Baru (1) dan Luxemburg (2), benar-benar menyadarkan kita, betapa perjuangan kita sejak era 70-an hingga 80-an mengkader BERIBU-RIBU/BAHKAN JUTAAN pejuang 'agama’, ‘bangsa’ sekaligus ‘kemanusiaan transenden' yang berintegritas, teramat-amat sulit, tak berhasil guna dan berdaya guna.

Yang selalu lahir hanya generasi paradoks Indonesia yang ber-karma campuran, menyandingkan dengan mesra nilai-nilai partikularitas dengan universalitas/ amal karma salah yang buruk dengan amal karma saleh yang baik, generasi schizoprenik/ split/terbelah yang partikular, munafik, medioker yang selalu mengkhianati 'kesadaran kolektif' - traktat monumen kebersamaan Pancasila-UUD 1945, dengan Ego-Ego Ke-Aku-an Partikular pribadi/kelompok yang sempit berjangka pendek-nya masing-masing.

Betul sekali kata Bung Nur Abdul Goni, KHOIRO UMMATIN-nya hanya sebatas kalangan tertentu, belum dirasakan manfaatnya oleh akar rumput, hingga perlu terbangunnya GENERASI UMAT TERBAIK/KAUM TERBAIK BANGSA dan perlu “marketing yang gencar”.

Cak Nur telah berjuang merealisir terbangunnya Generasi Masyarakat Warga Sejati yang berkeunggulan kompetitif Madani, bercivic culture-demokrasi yang matang dan berkeadaban, namun amat disayangkan orang-orang terdekatnya/murid-muridnya dulu tak ada yang meneruskan 'mengejawantahkan' terbangunnya Masyarakat Warga Sejati tersebut, masing-masing asyik membangun kerajaan kecilnya sendiri-sendiri bagi memuja 'ego-ego' partikularnya sendiri.

Begitupun FORDEM yang dibangun Gus Dur kini sepertinya tak berkelanjutan dan sudah tak kedengaran lagi kiprahnya. Ada generasi Kaum Gusdurian, sepertinya masih sebatas ritual-seremonial geraknya, belum menggulirkan kesadaran kritis-emansipatoris, transformasi sosial holistik apalagi liberasi pembebasan umat dan bangsa dari cengkeraman penjajahan-penindasan bangsa oleh "Kaum Nekolim - Neo Imperialis - Sistem Mafioso Kekaisaran Korporatokrasi Global dan Lokal".

Masyarakat Marhaen dan Komunitas Masyarakat Nasionalis Indonesia sepertinya tak eksis lagi geliat kehidupannya, jika adapun seperti GMNI sudah partikular dan bias gerakannya, tak ideologis dan tak berintegritas dalam gerak Transformasi Sosial yang holistik lagi. Mungkin ada kader-kader Masyarakat Murba pengikut Tan Malaka (konon pak Jokowi salah satunya), militan tapi barangkali tinggal sedikit komunitas ini.

Ayah Uyut ‘Arya Jaka Lelana’ – Jonggol berpesan, agar para priyayi sejati Indonesia bisa berhimpun untuk bangun “Masyarakat Warga Sejati Indonesia’ yang berkeunggulan kompetitif Madani dan berkeadaban. Tak perlu memikirkan untuk membentuk partai dulu, yang ujung-ujungnya hanya kepentingan partikular sempit yang berjangka pendek, entah kepentingan sempit kelompoknya atau kepentingan sempit ‘koalisi dagang sapi’-nya. Jika para priyayi sejati bisa berhimpun dan Masyarakat Warga Sejati dapat terbangun dengan kuat, maka problem ‘kemasyarakatan-kebangsaan-kenegaraan’ akan terurai dengan sendirinya. “Tak usah kita mengejar kursi kekuasaan, kita nantinya malah akan diperkosa untuk duduk di kursi tersebut,” kata Uyut.

Paradigma Pandangan Dunia “NASAKOMSOS – Kebangsaan Sosial Relijius”. Ideologi Pancasila yang Hidup- Signifikan- Aktual Mengejawantah di Ruang Kehidupan/ 24 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar