Sabtu, 10 November 2012

Perjalanan Spiritual: Menuju Tuhan atau Menjadi Tuhan?

Dalam istilah Perjalanan Spiritual manakah yang lebih tepat dari istilah-istilah berikut:
1. Perjalanan Menuju Tuhan...atau 2. Perjalanan Menjadi Tuhan...? (satu pertanyaan yang amat liar dan menarik dari Ikhwan ustadz HenDy Laisa, pengikut Mulla Sadhra)

“Dan Allah mengetahui yang engkau ‘rahasia’-kan, yang engkau lahirkan dan yang engkau i

hktiar perjuangkan” (QS. Al Anam: 5).

Menurut Neo Quisling, mengutip Mulla Shadra, sesungguhnya perjalanan manusia paripurna dalam kehidupan ini terdiri dari 4 tahap:
1.perjalanan dari alam ciptaan MENUJU Allah
2.perjalanan dalam Allah
3.perjalanan kembali dari Allah menuju ciptaan kali ini bersama Allah
4.perjalanan dalam ciptaan bersama Allah

Sementara dikatakan Iyang Samangka, yang lebih tepat "Perjalanan Menuju Tuhan" dengan bahasa yg lain "Perjalanan Menuju Cahaya"

Nabi Musa saja mau melihat saja nggak sanggup, bukit Tursina hancur, Musa pun pingsan, gimana menjadi Tuhan?

Muchammad Husain katakan, "Mullah Shadra.... itu yang benar... atau gampangannya, dalam tubuh kita ada Ruh Ilahi. andaikan Allah membolehkan Tuhan itu ada banyak, kita bisa jadi Tuhan. tapi sayang, “qul huwallahu ahad”... Tuhan cuma satu."

Namun memang seluruh Grand Master Spiritual/Irfan-Tasawuf (seperti dijelaskan Imam Muhammad Al Ghazali dalam “Kimia Kebahagiaan), sepakat dengan diktum: "Siapa yang tak merasa, bertemu, mengalami, ‘mencium bau’-nya, dia tak akan percaya jika diceritakan hasil perjalanan pengalaman penyelaman spiritualnya". Makanya para Grand Master Spiritual/Irfan-Tasawuf hanya bisa menggambarkannya melalui konsep-konsep/terma tertentu, metafor dan lambang-lambang.

Mulla Sadhra sendiri mewanti-wanti agar tak boleh menceritakan pengalaman spiritual kepada mereka yang tak memiliki 'bahan, modal, dan pengalaman spiritual'. Dalam bukunya Mulyadi Kartanegara menulis "Rumi tekankan kita untuk menyelam, di 'kedalaman diri'. Menurut Rumi menuntut ‘mutiara sejati kehidupan’ melalui buku dan akal diibaratkan seperti menimba air laut dengan timba yang kecil, satu kerja yang melelahkan namun tak mendapatkan apa-apa."

Spiritual itu exact-pasti, universal, tak bisa dikarang-karang, khayal halusinasi, atau bohong tertipu delusi. Makanya yang rasa, ketemu, ngalami, cium baunya, dia akan percaya. Sebaliknya yang nggak rasa, ketemu, ngalami, cium baunya, dia tak akan percaya. Hingga Mulla Sadhra pun mewanti-wanti agar tak boleh menceritakan pengalaman spiritual bagi mereka yang tak memiliki 'bahan, modal, pengalaman spiritual' - 'mi'raj ke dimensi-dimesni alam yang lebih tinggi' (seperti digambarkan Imam Khomeini pada bukunya ‘Mi’raj Ruhani’ atau khazanah spiritual pada buku ‘40 Hadist’-nya) .

Dan Imam Ali bin Abi Thalib As. pun katakan : “Kemenangan diperoleh dengan kebijaksanaan, kebijaksanaan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar ialah yang menyimpan baik-baik segala rahasia."

Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spiritualitas Kesejatian, Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”./ 22 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar