Sabtu, 10 November 2012

Orientasi Sukma 'Ideologi' Kerakyatan dan Kerangka Kebangsaan Partai Mesti Didudukkan



Orientasi ideologis ‘kerakyatan/res publica kepentingan umum’ rakyat dan kerangka kebangsaan Indonesia partai mesti didudukkan, sehingga ‘anak-anak bangsa/insane-insan politik’ berkecerdasan etika nurani, cerdas integritas sosial, cerdas budaya bangsa dan cerdas 'civic culture - demokrasi' politik, Bung!Apa mau
mengedepakan 'aliran' dengan politik alirannya, terus menjadi 'anak-anak' dengan kepentingan 'Ego Partikular' sempit-berjangka pendek - transaksional dagang sapi terus?

Kata Bung Karno, "Jika keadaan ‘sakit sosial tak bersatu’ ini tak dihentikan dan partai-partai yang mengedepankan ego partikularnya terus berjalan, kapan bangsa ini bisa mulai bekerja, bisa mulai membangun?

Mungkin yang bisa kita harap di antara pemain lama yang telah terbukti bukan dalam kerangka aras res publica - kepentingan umum rakyat, pak Prabowo yang isyunya ingin tegakkan Indonesia Raya, meneruskan perjuangan Bung Karno, nasionalisme sejati dan ekonomi kerakyatan, sementara ini bisa kita dorong dan perkuat agar komit dan konsisten. Kita harus kawal, "Jangan esuk dele sore tempe, setelah berkuasa". Ada tokoh pemimpin partai yang berintegritas seperti Sayuti Assyatri (Partai Demokrasi Kebangsaan warisan pak Riyas Rasyid), namun basis massa dan politiknya kecil, tapi “jika Bung Sayuti komit dan konsisten, lama-lama rakyat bisa jatuh hati”. Bung Budiman Sujatmiko juga berintegritas dan ideolog, tapi sayang dia ada dalam PDIP yang selama ini kita tahu, kencang dengan 'Tekstur Dagang Sapi'-nya.

Konteksnya Islam, bukan dengan perspektif membonsai Islam menjadi sempit. Justru kepentingan kita pada Islam yang substansial, seperti Kanjeng Nabi dengan Konstistusi Madinah-nya yang kosmopolit universal. Islam ‘hibrid’ yang sudah bertransformasi meng-Indonesia seperti dicontohkan Walisongo, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Sultan HB IX, Bung Tomo, Cak Nur, Gus Dur, Sultan HB X (dengan Kesadaran Kebangsaan-Relijius-nya yang “100% Islam, 100% Indonesia) dan banyak lagi tokoh otentik kebangsaan lain. Seperti juga Mgr. Soegijapranata dengan diktumnya yang terkenal “100% Katolik, 100% Indonesia”. Bukan Islam dengan keberagamaan dogmatik-normatif-legal-formal-simbolik seperti amat digelisahkan-diprihatinkan 'Guru Bangsa' Nurcholis Madjid, makanya dia create Masyarakat Warga Sejati yang berkeunggulan kompetitif, berkesetaraan, berkeadilan dan berkeadaban.

1 komentar:

  1. Buat saudara punya permasalahan ekonomi: hub aki santoro,karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat,hub aki santoro di nomor 0823 1294 9955, atau KLIK DI SINI

    BalasHapus