Sabtu, 10 November 2012

Nubuah Buddha dan Wasiat Imam Ali As. Tentang Struktur Komunikasi

Sang Buddha menubuahkan akan datangnya ‘Buddha Maitrea’ sesudah era kelahiran dan pencerahan sempurnanya(yang ciri-cirinya penuh dengan sifat rahmat – cinta kasih yang welas asih bagi segenap semesta publik/alam).

Dan tanda-tanda tersebut, banyak yang meyakini secara menonjol ada pada diri Kanjeng Nabi Muhammad Saw. (lahir tahun

570 M) dengan akhlaknya yang agung (khuluqin adzim) dan peran ke-Ilahian sebagai rahmat – metta karuna – cinta kasih yang welas asih bagi segenap semesta publik/alam (rahmatan lil alamin).

Mengikuti kelas ‘Abhidhamma Buddha’ dengan pengajarnya Romo Pandit J Kaharuddin, juga dengan Bante Khemida, bisa kita simpulkan, substansi ajaran kebatinan Buddha sama dengan ajaran ‘Jalan Tengah’ dari ajaran kerohanian purifikasi Penyucian Jiwa “Tasawuf-Irfan” pada agama Islam.

Jauh sebelum lahirnya ‘filsafat hermeneutika, post modernisme dan pst strukturalisme’ Imam Ali bin Abi Thalib As. katakan, "Lihatlah 'substansi/eksistensi dari struktur komunikasi’ yang dikatakan, jangnlah melihat siapa yang mengatakan - undzur ma qoola wala tandzur mn qoola."

Soal tata cara ibadah, bacaan-bacaannya, patung Buddha, dewa-dewa, nama dimensi-dimensi alam sudah pastilah berbeda, wong kita dengan kaum Yahudi dan Kristiani juga beda, walau sumbernya satu, Allah Swt.

Tinggal ‘panna-hikmah’ kebijaksanaan kita, untuk bisa memandangnya sebagai satu kebermaknaan yang menyeluruh/holistik (tak ada yang sia-sia segala yang Allah cipta/ robbana ma kholakta hadza baatilan), merahmat-cinta kasih welas asihi segenap semesta publik (memanusiakan manusia, membentangkan potensi Ilahi manusia dan segenap makhluk, membahagiakan semua makhluk – rahmatan lil alamin/bu’istu makarimal akhlak) dan mentransendenkannya (dengan ‘zibghatallah’ celupan Cahaya Ke-Ilahian Allah’ yang Maha Meliputi Segala (Muhit), dalam kerangka menegakkan bangunan “kekeluargaan spiritualitas rahmat-metta karuna-cinta kasih yg wela asih” (ukhuwah rahmaniah), kekeluargaan bangsa (ukhuwah wathoniah) dan kekeluargaan kemanusiaan ‘transenden’ (ukhuwah insaniah).

Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”. / 30 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar