Sabtu, 10 November 2012

Melihat Dengan Mata-Nya, Mendengar Dengan Telinga-Nya, Memegang Dengan Tangan-Nya, Berbicara Dengan Lidah-Nya



Rasulullah saww bersabda, “Allah telah berfirman : “Tidak ada sesuatu yang dilakukan oleh salah seorang di antara hamba-hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku sukai ketimbang (melaksanakan) kewajiban-kewajiban yang telah Kutetapkan kepadanya. Dia (sang hamba) mendekatkan

dirikepada-Ku dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintai-Nya, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya ia melihat dan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang. Jika ia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan dan seandainya ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri”

Orang mu’min yang sempurna dan dekat dengan Allah SwT itu ada 2. Imam Khomeini qs mengatakan berkaitan dengan hadits di atas (Bihar al-Anwar 70 : 22), “Para ahli ma’rifat membagi kelompok ini menjadi 2 bagian : ‘Pertama’, orang-orang mu’min yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah fardhu, dan yang kedua adalah orang-orang mu’min yang mendekatkan diri kepada Allah dengan ‘nawafil’ (amalan-amalan sunnah) .


Mu’min sempurna yang kedua, yang disebutkan dalam hadits di atas telah mengalami fana’ (melebur) dalam nama (asma’), zat dan af’al, maka dia telah mencapai peleburan total, dan tampaklah kepadanya hal yang terang benderang, lalu di situ dia betul-betul menjadi (menyatu dengan) Allah Yang Maha Tinggi (al-Haqq Al-Muta’ali), dalam arti dia mendengar dengan ‘telinga’ Allah, melihat dengan ‘mata’ Allah, memegang dengan ‘tangan’ Allah, dan berbicara dengan ‘lidah’ Allah. Dia melihat Al-Haqq dan tidak melihat yang selain-Nya. Sesungguhnya kedekatan seorang hamba kepada Allah, merupakan hasil dari tarikan kerinduan ilahiah dan cintanya kepada al-Haqq.


”Jika bukan karena tarikan dari arah Yang Dirindukan,

niscaya penempuh yang malang dan penuh rindu
tidak akan memperoleh keberuntungan.”

Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah (nafilah), akan menghasilkan ke fana-an (peleburan) total dan penyatuan yang sempurna dengan Zat Yang Mutlak.


Sesudah ke-fana-an dan peleburan total, penyatuan dan siraman cahaya yang sempurna, yang kadang-kadang mencakup pula pertolongan azali (‘inayah azaliyah), lalu kesadarannya pulih kembali dan dia kembali ke dunianya dengan kehilangan cahayanya, seraya merasakan ketentraman dan kedamaian dan berhasil menyibakkan Keindahan (al-Jamaliyyah) dan Keagungan (al-Jalaliyyah), maka muncullah dalam cermin zat-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan di situ tersingkaplah penampakkan yang tetap dan terus melekat.


“Jika Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menariknya ke tempat yang amat dekat dan Aku menempatkannya di alam kudus. Kujadikan pikirannya tenggelam dalam rahasia-rahasia malaku, dan inderanya teratas pada penampakkan cahaya-cahaya Jabarrut. Pada saat itu cinta melumuri darah dan dagingnya, sehingga dia gaib dari dirinya sendiri, dan apa yang selain itu lenyap dari pandangannya, sampai-sampai Aku menggantikan penglihatan dan pendengarannya.”


Demikian pula halnya dengan kekuatan tubuh, yang bila digunakan untuk taat dan taqarrub kepada Allah, niscaya Allah akan menambahkan kekuatan uhani…sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mu’minin as melalui ucapan beliau,”Tidaklah aku menjebol gerbang Khaibar dengan kekuatan jasmani, tetapi dengan kekuatan Rabbani!” .


”Bagi para pencinta Tuhan, Dialah semata sumber

segala keriangan dan kedukaan.
Dialah semata objek sejati segala hasrat
setiap jenis cinta yang lain adalah kegilaan yang ganjil.
Cinta kepada Tuhan adalah nyala,
ketika memancar, membakar segalanya kecuali Tuhan.
Cinta kepada Tuhan adalah sebilah pedang
yang memangkas semua selain Tuhan.
Hanyalah Tuhan yang abadi
segala yang lain akan binasa.”
(Rumi, Matsnawi V : 586-90)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Wabillahi Taufiq wal Hidayah wal Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin,

Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spirritualitas Kesejatian dan Etika Nurani, Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika.”/17 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar