Sabtu, 10 November 2012

Manusia Bahagia: Damai Berkesadaran Holistik

Pengetahuan kita tentang model manusia yang berkembang seutuhnya sampai hari ini masih didominasi oleh wawasan teoretis yang lahir dari ilmu pengetahuan Barat Kita mungkin telah akrab dengan istilah-istilah seperti "manusia yang tidak diperbu-dak oleh dorongan instingtif-nya" dari Freud, "manusia yang terindividuasi" dari Cari Jung, "manusia yang menga

ktualisasi dirinya" dari Abraham Maslow, atau yang lebih mutakhir "manusia yang mengembangkan potensi-potensi positifnya" dari Martin Selligman. Pengaruh wawasan teoretis Barat yang kelewat kuat itu-didukung oleh perangkat metodologi ilmu pengetahuan modem-secara sistematis telah menggusur pemikiran-pemikiran filsafat manusia yang secara sosio-kultural lebih merepresentasikan watak manusia pribumi.

Tulisan ini akan membahas pemikiran Ki Ageng Suryo-mentaram (1892-1962), salah satu jenius lokal dari Jawa yang terkenal dengan ajaran-ajarannya tentang "ilmu kawruh jiwa". Ki Ageng Suryo-mentaram tumbuh dalam ruang waktu kebudayaan Jawa (pedalaman) yang menjunjung tinggi asketisme hidup lewat laku mawas diri.
Pemikirannya tidak lahir dari olah intelektual dengan me-review khazanah pemikiran tokoh-tokoh lain, melainkan lahir dari laku spiritual dengan disiplin tinggi sehingga tidak berlebihan ketika hasilnya dianggap sebagai saripati realitas itu sendiri. Dalam konteks ini, ia mirip seorang ifenomenologi sebagaimana digambarkan oleh Husserl. Ia mempraktekkan prinsip epoche untuk menangkap "realitas murni" yang terbebas dari beban praduga-praduga pengetahuan tertentu.

Penelusuran Ki Ageng Suryomentaram untuk memperoleh model manusia yang mampu bertumbuh bertumpu pada prinsip transformasi. Artinya, untuk sampai pada kondisi kesehatan mental hakiki, seseorang harus mampu melakukan transformasi diri, dari manusia dengan kualitas "juru catat", kemudian menjadi "kramadangsa", hingga mencapai model "manusia tanpa ciri".

Manusia "Juru Catat", "Kramadangsa", Hingga "Tanpa Ciri".

Rasa kramadangsa setiap manusia awalnya bertindak sebagai juru catat yang mencatat segala hal yang dialami. Seiring dengan bertambahnya usia, catatan itu bertambah banyak sehingga memenuhi ruang rasa (istilah yang dipilih Suryomentaram sebagai pengganti istilah jiwa) manusia. Catatan-catatan itu berfungsi sebagai bank data yang akan muncul kembali ketika seseorang merespons situasi tertentu. Catatan-catatan yang sering diingat akan tumbuh subur, sementara catatan yang jarang diingat akan layu kemudian mati. Suryomentaram mengidentifikasi ada sebelas catatan yang mengisi ruang rasa manusia, di antaranya harta benda, kehormatan, kekuasaan, keluarga, golongan, kebangsaan, jenis, kepandaian, kebatinan, ilmu pengetahuan, dan rasa hidup (Suryomentaram, 2003 70).

Catatan-catatan itulah yang kemudian mengantarkan manusia mengalami rasa kramadangsa, yaitu tahap kesadaran yang menyatukan diri dengan catatan-catatan tersebut. Rasa kramadangsa berkembang setelah manusia dewasa, ketika dia sudah mampu memikirkan catatan-catatannya Bayi mampu mencatat, namun ia belum mampu memikirkannya. Jika seorang ayah melihat anaknya diganggu, maka catatan "keluarga" akan muncul. Dia akan berkata, "Itu anakku, jangan diganggu!" Di tahap inilah berkembang konsep kepemilikan. Suryomentaram mengumpamakan kramadangsa sebagai seorang buruh untuk sebelas majikan, yang berwujud sebelas kelompok catatan tadi.

Catatan yang paling dianggap penting akan mencengkeram kramadangsa. Kramadangsa akhirnya mengabaikan catatan-catatan yang lain. Setiap orang memiliki dorongan yang berbeda-beda untuk memilih menyuburkan catatan-catatan tersebut. Jika seseorang selama hidupnya dikuasai oleh catatan harta benda, misalnya, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu menumpuk harta benda. Jika hartanya bertambah ia akan senang, namun jika berkurang ia akan sedih.

“Bahagia: Mawas Diri, Sinergikan Laku Pikir dan Laku Rasa”

Manusia yang hidupnya sekadar dikuasai oleh rasa kramadangsa, hidupnya tidak akan pernah bahagia. Ia hanya akan menjadi juru pikir yang selalu memikirkan catatan-catatan hidupnya. Ia menjadi terpenjara oleh catatan-catatan tersebut. Peluangnya untuk mengetahui hakikat kebahagiaan menjadi mengecil, karena ia terlalu memikirkan catatan-catatan yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan itu sendiri.

Manusia tanpa cirri, jika seseorang yang mampu meloloskan diri dari jebakan rasa kramadangsa akan tumbuh menjadi "manusia tanpa ciri". Suryomentaram menggambarkan manusia tanpa ciri sebagai sosok yang mampu menempatkan setiap persoalan dalam tempatnya melalui laku mawas diri. Mawas diri adalah sikap tidak merasa benar sendiri.

Menjadi manusia tanpa ciri itu juga berarti mengembangkan catatan-catatan yang berdasarkan laku rasa, bukan berdasarkan laku pikir semata. Penjelasan ini akan menghindarkan dari kesalahpahaman seolah-olah Suryomentaram melihat catatan-catatan sebagai hal yang buruk. Ya, ia akan menjadi buruk jika ia terbentuk semata-mata melalui laku pikir, tidak mengikutsertakan laku rasa. Menjadi mawas diri dengan demikian adalah mensinergikan antara laku pikir dan laku rasa.

Contohnya, jika kita dihina oleh orang lain, pikiran cenderung akan menuntun kita untuk menuntut balas. Namun, ketika kita mengembangkan rasa, akan muncul kesadaran bahwa barangkali kita kurang menghormati orang lain, terlalu mementingkan diri sendiri, dan sebagainya. Kesadaran itu kemudian akan melahirkan rasa damai dalam diri kita.

Seseorang akan menjadi semakin mawas diri ketika ia dihadapkan pada banyak peristiwa. Laku pikir dan laku rasanya menjadi semakin terlatih. Mawas diri itu momentum, bukan sifat. Artinya, ia adalah respons terhadap situasi, bukan modus yang mengatasi segala situasi. Ini menandakan bahwa Suryomentaram mencoba seimbang melihat manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis. Hari ini dia mampu menjadi mawas diri, besok belum tentu. Jadi, lahirnya manusia tanpa ciri tidak berlangsung secara terus-menerus, melainkan hanya pada setiap kejadian, satu peristiwa demi satu peristiwa, atau dalam satu masalah demi satu masalah.

Pemikiran Suryomentaram tentang model manusia sehat di atas merupakan falsafah hidup yang sangat berguna, meski harus diakui ia menunjukkan bias kebudayaan Jawa. Ia telah menjadi laku spiritual sehari-hari yang hingga kini masih dipraktekkan banyak pengikutnya. Hal ini membuktikan, sekecil apa pun, bahwa ada upaya untuk merumuskan diri sendiri dan dunia tanpa harus bergantung pada khazanah pengetahuan Barat. (Sumber : bataviase.co.id/detailberita-10421773.html, kilasbaliknusantara.blogspot.com)

Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”, Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spiritualitas Kesejatian, Etika Nurani dan Emosi. / 31 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar