Sabtu, 10 November 2012

Kefasikan dan Kemunafikan Ulama, Sumber Hilangnya Kehormatan-Kemuliaan Islam

Hati-hati dengan setengah benar [keraguan Kebenaran akan sesuatu], bisa jadi anda berada disisi setengah dari kesalahan. (Akhmad Assegaf)

Amal karma campuran inilah, yang bisa menjatuhkan orang ke dalam posisi najis batin fasiq atau munafik. Tak mudah memang belajar ilmu isi/batin dengan sistem Irfan-Taswuf-nya, untuk

bisa menyelam di lautan Ketuhanan/ masuk ke dalam Kerajaan/Rumah-Nya yang sejatinya di dalam diri kita.

“Syariat tanpa hakikat, fiqih tanpa tasawuf adalah fasiq.” (Syaikh Junaidi Al Baghdadi, Imam Malik).

Imam Khomeini Qs. menganggap pendidikan dan penyucian ‘jiwa’ manusia berada di balik falsafah pengutusan para nabi. “Sang Imam Ruhullah-Matahari Peradaban” ini mengatakan bahwa ilmu akhlak dan tauhid yang tidak disertai dengan pendidikan yang benar dan pembersihan jiwa, akan menjadi sarana dalam melayani para diktator(‘melahirkan manusia-manusia budak-pelayan’). Setelah itu, ia akan melahirkan pelbagai derita, kesusahan, dan ketertindasan, seperti yang kita saksikan sekarang ini dalam masyarakat industri dan kapitalis, bahkan juga dalam masyarakat komunis.

Ilmu lahir/syariat semua bisa, tapi ilmu 'penyucian jiwa' batin, seperti telah dengan terang benderang dibabarkan Imam 12 Ma’sumin, Walisongo, Walipitu, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Abu Hamid Al Ghazali, Suhrawardi, Mulla Sadhra, Syeikh Yusuf Al Makasari, Ronggowarsito, Ki Ageng Suryomentaram, Imam Khomeini, Imam Thabatabai dkk. dalam risalah kitab-kitabnya, sebagai satu ‘bisnis Ilahiah yang agung’, (Gracia Commercia), amat sangat tak mudah.

Padahal ilmu inilah yang menjadikan marwah-kehormatan, keagungan dan kemuliaan Al Qur'an dan 'Itrah Kanjeng Nabi' terjaga. Mayoritas keulamaan yang ada sekarang ini, alpa terhadap dimensi ini hingga rendahlah 'tingkat kesadaran keberadaban Islami/ modal 'kesalehan' sosial Islami (rangking no. 140), dan hancurlah kualitas Ke-Madanian tata kelola sistemis sosial politik umat.

Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spiritualitas Kesejatian dan Etika Nurani, Pondasi filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”./ 10 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar