Sabtu, 10 November 2012

‘Kebatinan Irfan/Tasawuf’ Dalam Perspektif Muthahhari

Murtadha Muthahhari termasuk cendekiawan Islam yang telah konsentrasi pada penelaahan tradisi dan metode irfan, yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Mulla Shadra, Jalaluddin Rumi, Nasiruddin Thusi dan lain-lain.

Tujuan dari metode Irfan adalah mengarahkan manusia pada perjalanan ruhani yang dapat mencerahkan potensi spiritualnya, setelah m

ereka terombang-ambing dalam kemilaunya dunia dan terjebak pada pendewaan potensi akal dan emosi yang tak terjaga oleh nilai-nilai spiritual.

Tahapan-tahapan metode Irfan dalam mentransformasikan model-model pencerahan spiritual, meliputi syiariah dan thariqah sebagai sarana mencapai hakikat. Paling mendasar dalam menempuh metode irfan adalah iradah. dalam hal ini, metode irfan mengajarkan kepada manusia untuk melakukan praktik bidayah, memasuki abwab (pintu-pintu), muamalat (transaksi), dan berakhlak.

Tahapan selanjutnya adalah menjalankan praktik 'riyadhah' (perjalanan spiritual). Tujuan 'Riyadhah' ini adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah dengan menempuh maqamat zuhd, menundukkan jiwa yang menyuruh berbuat kejahatan kepada jiwa yang tenang, dengan menempuh maqamat mujahadah dan terakhir adalah melembutkan jiwa bathiniah dengan tujuan membuatnya siap menerima dengan ara dzikir dan fikr atau muhasabah dan muraqabah.

Pada tingkatan praxis, penerapan metode Irfan dalam bimbingan Islam bersinggungan dengan titik tujuan yang sama, yakni meningkatkan kualitas Iman dan takwa, upaya pemeliharaan dan perbaikan mental spiritual. Dalam penerapannya, klien yang bermasalah harus diluruskan iradahnya oleh pembimbing dengan cara pelurusan niat. Kemudian pembimbing harus menyuruh klien melakukan muhasabah atau muraqabah (meditasi dalam kerangka mendiagnosis masalah) terhadap kondisi kejiwaannya. Setelah itu si mursyid harus melakukan 'ijtihad' (tahap prognosis) dalam memilih alternatif amalan bagi si klien. Terakhir (tahap sintesis), si klien dalam kerangka bermujahadah dan m,enumbuhkan sikap zuhd. Dalam keyakinan Irfan, jika syariat dan thariqat ini dilakukan maka klien akan mencapai pencerahan spiritual (mendapat emanasi hakikat)

Pada dasarnya ilmu ada dari ilmu hushuli yakni lahir dari analisis rasional, faktual dan dari abstraksi kuantitatif yang kondusif untuk bersifat mekanistis reduksionis dari atau ilmu yang lahir karena penggunaan potensi jasmani dan akal. Kedua ilmu hudhuri yakni ilmu yang sangat mistis dan transendental, atau ilmu yang diperoleh melalui pengembangan terutama potensi ruhani irfan ini dicapai melalui ilmu hudhuri. (Sumber: sahabat-muthahhari.org)

Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”, Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spiritualitas Kesejatian dan Etika Nurani./ 1 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar