Sabtu, 10 November 2012

‘Kebahagiaan di Dua Negeri’ Orang Bertaqwa

Selalu mengalir dan berenang dari satu training kehidupan kepada training kehidupan, dari satu kesadaran ‘aku –aku/ego-ego partikular’ menuju kepada kesadaran ‘Aku Universal’.

Manusia adalah wakil-Nya, rahasia-Nya.

“Tak ada gap antara kehidupan dulu, kini dan nanti. Yang ada hanyalah kesadaran yang terus berjalan. ” (Bante Kheminda)

Sadra mengatakan

; ‘Alam akhirat adalah alam tanpa hayula (matter), semuanya adalah persepsi-persepsi namun pada saat yang sama adalah konkrit (memiliki realitas eksternal). Karena itu banyak yang salah kaprah bahwa alam akhirat hanya imajinasi semata. Persepsi-persepsi kita didunia berasal dari luar diri kita.

Namun diakhirat yang ada hanya diri kita dan persepsi-persepsi kita. Alam kita diakhirat kelak seperti imajinasi kita di dunia. Imajinasi kita di dunia tidak mewujud, namun imajinasi kita di alam akhirat mewujud dan konkrit’. (Prof Kiyasyamsyaki – dari Muhammad Nur/ Mulla Sadra Society of Indonesia).

“Dunia klise, afdruknya persis di akhirat,” kata Buya Umar Ismail – Kramat Sentiong.

“Segalanya lenyap binasa (fana/haalikun), kecuali ‘Eksistensi’ Wajah-Nya, yang kekal abadi” (Al Ayat).

Semua berhenti sebagai teks, konsep dan lambang. "Segala yang bisa digapai dengan pikiran bukanlah Tuhan, yang tak bisa digapai dengan pikiran itulah Tuhan. Keluarlah dari lingkaran waktu, masuklah ke lingkaran cinta." (Rumi).

“Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya mengabaikan dunia. Barang siapa menghendaki Allah, maka wajib baginya mengabaikan kehidupan akhirat.” (Syeikh Abdul Qadir Jailani).

Syariati menulis, Ka'bah adalah tempat bertemunya Allah Swt, Ibrahim As, Muhammad Saw dan umat manusia. Setiap orang mengenakan pakaian khusus 'putih ketaqwaan' (simbolisme ihram). “Sebagai orang yang disucikan oleh Allah dan menjadi 'keluarga-Nya' maka engkau dimuliakan oleh-Nya. Dia lebih bergairah memperhatikan 'keluarga-Nya' dibanding yang lainnya. (Humanisme Haji).

Imam Ali a.s katakan, “Orang-orang yang bertakwa merasakan kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat. Mereka menikmati dunia bersama para pecinta dunia. Sementara pecinta dunia tidak akan merasakan kenikmatan akhirat bersama orang-orang yang bertakwa.”

Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spiritualitas Kesejatian, Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika.”/ 24 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar