Sabtu, 10 November 2012

Fahami Agama, Mesti 'Include' di Dalamnya Kesadaran Kebangsaan yang Baik

“Ketika memahami agama, maka yakinlah pasti pula memahami tentang bagaimana berkebangsaan yg baik” (Normawati Wahid)

Betul sekali, konstruksi akhlak-kepribadiannya mestinya padu chemistry: "100% Islam, 100% Indonesia" seperti juga diktum Mgr. Soegijopranoto, "100% Katolik, 100% Indonesia.".

Makanya seperti ditulis Abdul
Moqsith Ghazali, "Seharusnya umat Islam tak hanya menguasai dalil-dalil agama, melainkan juga dalil-dalil dalam berbangsa dan bernegara."

Ini yang drop, hinggakualitas 'kesalehan sosial - ke-Islaman bangsa Indonesia' JEBLOK di rangking buncit (140), jauh dibawah "Setan Besar" Amerika (25), Selandia Baru (Jawara no 1) dan Luxemburg sebagai jawara pengamal 'Kesalehan Sosial Islam' kedua.

Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Integritas Sosial dan Budaya Bangsa. Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”./ 24 Oktober 20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar