Sabtu, 10 November 2012

Taqwa Bermakna Cerdas Seutuhnya, Hasil “Pendidikan Manusia Seutuhnya”

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara manusia , adalah mereka yang paling bertaqwa”,

Taqwa bukan sekedar dimensi moral, bukan sekedar dimensi kognitif intelejensia atau kategori-kategori ideal kebaikan yang hanya konsep/pemikiran/kata-kata tanpa pengejawantahan pada ruang kehidupan,

taqwa bermakna “Cerdas

Seutuh”-nya.

Kecerdasan komplet/kaffah yang merupakan hasil Pendidikan Manusia Seutuhnya yang meliputi :

1. Cerdas Spiritualitas Kesejatian

Menjadi rahasia-Nya, wakil-Nya di muka bumi, berakhlak dengan akhlak-Nya, ikhlas tak terbatas, sabar tak terbatas, syukur tak terbatas, merahmat-metta karuna – cinta kasih welas asihi segenap semesta publik/makhluk, membentangkan potensi Ilahi sesama dan segenap makhluk, membahagiakan semua makhluk, berkesadaran “Ego Universal Ilahi” - pondasi filosofi kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”. Manusia menjadi dirinya, mengenal dirinya, hingga sungguh-sungguh mengenal Tuhan-nya.

(Pada Empat Pilar Pendidikan UNESCO termasuk elemen Learning to Be – menjadi diri sendiri, pada kategori ESQ Danah Johar dimasukkan sebagai Spiritual Quotient/SQ, pada perspektif Psikologi Perkembangan dimasukkan kategori kematangan spiritual , sementara pada kategori filosofis Kihajar Dewantoro termasuk manusia Tua yang ‘ngemong-merahmati-mengayomi’ di belakang /tut wuri handayani.)

2.Cerdas Etika Nurani

Menjadi insan berbudi-nurani, bertafakur-meditasi-samadi dengan obyek perhatian batin dimensi roh(ani) dan cahaya nur(ani) di dalam diri, kuasai-hayati-darah dagingkan-satukan batinkan ‘nilai-nilai hukum etika nurani/moral dari para ‘futuwah-ksatria sejati’ -penempuh jalan suluk saloka jiwa – jalan purifikasi pengenalan diri’ guna meraih ijazah mahkota ‘kerendahan hati’ sebagai Hamba Tuhan yang altruis-mengorbankan diri pada jalan pelayanan kebaktian yang penuh kasih bagi memuliakan nama-Nya, menegakkan kuasa kerajaan-Nya dengan ‘hukum-hukum semesta universal Ilahi’-Nya di muka bumi berupa bangunan ‘Peradaban Kemanusiaan Transenden – Milah Ibrahim yang lurus – Roh Absolut Negara – Suara res publica-kepentingan umum rakyat, Suara Tuhan’.

(Pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk dalam kategori kematangan moral, pada kategori filosofis Kihajar Dewantoro termasuk ‘manusia di muka’ yang penuh ketauladanan moral/budi pekerti /ing ngarso sung tulodo, sementara pada sistem kepribadian Freud dimasukkan sebagai dimensi superego/nilai-nilai ideal moral yang dominan pada manusia yang berkarakter luhur.)

3.Cerdas Emosi

Menjadi ‘pengamat-peneliti’ diri yang ahli (pangawikan pribadi), kemudian menjadi pemenang rasa sejati, melampaui warna-warni realitas rasa turunan dan rasa berlawanan dalam ‘dualisme kesadaran kehidupan’ yang selalu bertolak belakang (senang-susah, bahagia-menderita, dingin-panas, baik-buruk, langit-bumi, lahir-batin, rupa-nama, tinggi-rendah…dst). Berpegang pada nilai-nilai kehidupan-living values dari hubungan relasional di antara manusia (cinta, menghormati, bekerjasama, berbagi, menolong, berbuat baik, berfikir positif, beri’tikad baik, senyum, ramah, berkurban, empati, mendengar, antusias,… dst).

(Pada Empat Pilar Pendidikan UNESCO termasuk elemen Learning to Be – menjadi diri sendiri yang telah mencapai tingkatan Manusia Tanpa Ciri dengan rasa-emosi sejatinya, pada kategori ESQ Danah Johar dimasukkan sebagai Emotional Quotient/EQ, pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk dalam kategori kematangan Emosi).

4.Cerdas Kognitif-Intelejensi (IQ)

Dengan potensi akal-memorinya, mensistematisir-menguasai khazanah pengetahuan ‘alat-alat berfikir dan alat-alat analisa’ dari tataran pengetahuan Ilahi – Keimanan (Tauhid/Teologi), filsafat, ideologi, sistematika epistemologi - ‘hukum-hukum semesta universal Ilahi empiris’, hingga pengetahuan organisasional praksis guna membudidaya, merekadaya dan merekayasa ‘pengetahuan dan sumber-sumber daya kehidupan’ bagi memakmurkan-membangun peradaban manusia di muka bumi /sebagai wakil-khalifah-Nya di muka bumi.

(Pada Empat Pilar Pendidikan UNESCO termasuk elemen Learning to Know, pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk dalam kategori kematangan Kognitif, pada kategori Sistem Kepribadian Freud masuk dalam dimensi Ego yang bekerja rasional berdasarkan hukum-hukum realitas).

5.Cerdas Integritas Sosial

Sebagai makhluk sosial berkesadaran ‘kolektif sosial yang organik’ menjadi bagian organik dalam kolektiva kelompok sosial dimana kita menjadi anggotanya. Entah sebagai anggota kolektiva agama, masyarakat bangsa, maupun masyarakat dunia. Kesadaran ‘kecerdasan Integritas sosial’ beserta modal ‘kesalehan’ sosial-nya amat penting agar proses konsolidasi ‘kebangsaan dan demokrasi’ suatu masyarakat dapat berjalan dengan baik, mudah dan lancar.

Dalam tim sepak bola, jika kesadaran kecerdasan integritas sosial ini tak dimiliki sebagian pemainnya, maka bisa dipastikan tim tersebut adalah tim yang kalah sebelum bertanding. Begitupun pada sistem teknologi apapun, semisal motor, mobil atau pesawat terbang, setiap bagian/’sparepart’ memiliki peran/fungsi yang penting, yang tanpanya sistem akan sulit berjalan.

(Pada kategori Empat Pilar Pendidikan UNESCO dimasukkan ke dalam kategori Learning to Live Together, pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk kategori kematangan sosial, sementara pada kategori filosofis Kihajar Dewantoro termasuk manusia tengah yang berkarsa agung/ing madyo mbangun karso, seperti para Nabi, Imam-iman dan para kekasih Tuhan yang ‘altruis berkorban’ bagi sesuatu/isyu perjuangan yang lebih berupa ‘Tegaknya Bangunan Peradaban Kemanusiaan Transenden’.)

6.Cerdas Budaya Bangsa

Saat pertemuan nasional otoritas Bimbingan dan Konseling Nasional dengan pihak kementerian Dikbud (2008/2009?), para peserta memprihatinkan karakter anak-anak bangsa yang berkesadaran rendah dengan tingkat keadabannya yang rendah, serta ditinggalkannya nilai-nilai seni budaya luhur ‘kearifan lokal’ yang merupakan warisan dari bangsa-bangsa nusantara Indonesia. Sebagian peserta kemudian memunculkan satu rekomendasi tentang pentingnya membangun ‘kecerdasan budaya bangsa’ bagi subyek didik.

Amanat membangun kecerdasan budaya menjadi tanggung jawab yang melekat pada diri para insan pendidikan seperti telah diamanatkan dalam UUD 1945, guna memajukan kebudayaan nasional (Indonesia). Nilai-nilai penghormatan tinggi terhadap yang lebih tua/lebih khusus pada para tetua/lembaga sara, unggah-ungguh etika-etiket, tutur kata santun-lemah lembut-halus, penghormatan terhadap alam, norma-norma adat, harmoni, musyawarah untuk mencapai mufakat, ‘komunikasi social politik emansipatoris – rembug desa’, gotong royong yang dinamis, filosofi kehidupan ‘petatah-petitih’, gotong royong prasarana umum/ krigan-bersih desa-gugur gunung’ dst.

Sebagian besar melekat pada unsur-unsur kebudayaan: kesenian,tradisi pendidikan/sistem pengetahuan/pandangan dunia, tata ruang kehidupan, sistem mata pencaharian, kuliner, arsitektur bangunan, tata cara adat dan ritual dari masing-amasing suku bangsa. Para insan pendidikan dan kebudayaan, mesti bekerja keras menggalinya, mengumpulkannya, meramu dan merekonstruksikannya menjadi adonan unsur-unsur budaya bangsa bagi ‘Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia’.

(Pada kategori Empat Pilar Pendidikan UNESCO, termasuk bagian dari Learning to Live Together, pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk kategori kematangan budaya.)

7.Cerdas ‘Civic Culture – Demokrasi’ Politik

Sebagai makhluk yang dituntut mampu menyiasati realitas sosiohistoris bagi tugas mulia membangun tata peradaban, manusia mesti mengerti politik, dalam arti ‘politik yang mulia’ bagi mengentaskan/ membebaskan manusia dari segala belenggu penindasan dan penderitaan. Nabi-nabi, Ahlulbait nabi, para priyayi sejati – Jagoan Ilahi, adalah manusia-manusia ber-‘karsa agung’ dalam sejarah yang memainkan peran ini, sebagai politikus negarawan yang berakhlak nurani sekaligus membangun peradaban.

Filusuf Plato telah menubuahkan kepada kita tentang payung filsafat moral berupa otoritas “Philosopher King – Pemimpin yang Pandita – Pemimpin Kekasih ‘Wakil’ Tuhan yang penuh ‘Hikmah Kebijaksanaan’ yang berhati bersih dan berakhlak mulia” yang semestinya menjadi wakil rakyat dan aparat negara bagi sebesar-besar tegaknya pemerintahan Daulat ‘res publica-kepentingan umum’ Rakyat . Dengan indahnya para Founding Fathers-Bapak Pendiri Negeri, mendudukkan rumusan Demokrasi Hikmah Kebijaksanaan dengan komunikasi emansipatoris ‘musyawarah’nya pada sila keempat dasar negara Pancasila.

Demokrasi merupakan nilai-nilai/anasir-anasir ideal universal bagi terbangunnya pemerintahan negara yang menegakkan Daulat ‘res publica – kepentingan umum’ rakyat , yang meliputi ‘prosedural dan substansial demokrasi’ atau ‘lahir dan batin demokrasi’, yang khas pada tiap-tiap negara.

Pada sisi indikator “lahir/prosedural demokrasi” seluruh negara mengklaim dengan segenap aparat pemerintahannya menjalankankan tata prosedural demokrasi: partai politik, pemilihan umum legislatif dan eksekutif, UU dan peraturan-peraturan formal beserta aparat penegak hukumnya, dibentuknya kabinet pemerintahan legislatif, pembangunan infrastruktur pemerintahan dan kepentingan umum, pajak, dan banyak lagi perangkat lembaga sosial politik turunannya. Namun pada sisi indikator “batin/substansi demokrasi” : (keadilan, tegaknya hak-hak kewargaan an Hak-hak Asasi Manusia, kesetaraan harkat martabat warga, terjaminnnya keamanan dan hak-hak sosial ekonomi warga, tegaknya nilai-nilai kemanusiaan transenden dan berfungsinya ‘mesin/struktur’ negara yang berkeadilan social-menyejahterakan-memakmurkan warganya), kita dapati mayoritas negara di dunia belumlah demokratis.

Kecerdasan ‘Civic Culture – Demokrasi’ Politik amat sangat penting, agar seluruh warga negara ‘melek / sadar’ politik yang seharusnya mulia, tegaknya politik kewargaan dimana negara seharusnya ‘ngewongke – memanusiakan’ harkat martabat kewargaannya dan mengaktualkan hak-hak kewargaan mereka, keadilan hukum dan sosial yang harus tegak, kepercayaan sosial (social trust) berikut modal ‘kesalehan’ sosial-nya yang harus ditumbuhkan, terbangunnya ‘budaya kewargaan/civic culture dan SDM Demokrasi’ yang matang dengan pembagian kerja rasional yang ‘harmoni seimbang’ di antara komponen-komponen masyarakat bangsa: “Negara , Masyarakat Warga dan Pasar”.

(Pada kategori Empat Pilar Pendidikan UNESCO, termasuk bagian dari Learning to Live Together, pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk kategori kematangan sosial dalam konteks relasi dengan kekuasaan.)

8. Cerdas Estetika Seni

Kodrat atau fitrah akan kebutuhan/dimilikinya rasa keindahan pada setiap insan tak terbantahkan. Setiap manusia memiliki potensi rasa keindahan/jiwa seni yang ‘halus-lembut-indah’ yang khas, namun pada sebagian orang potensi seninya begitu besar sehingga dapat dengan mudah menguasai bidang-bidang kesenian yang diminatinya. Seperti seni tari, lukis, musik, drama, film, sastra, merangkai bunga, dekor, patung, mendalang, ukir dst.

(Pada perspektif Psikologi Perkembangan masuk kategori kematangan rasa emosi yang halus-lembut- indah.)

9. Cerdas Keterampilan Hidup

Untuk dapat bertahan, dalam menjalani ‘eksistensi kehidupannya’ manusia mesti memiliki kecerdasan keterampilan hidup, terutama dalam menetapi sistem mata pencahariannya. Dari pengetahuan-keterampilan/skill pada bidang-bidang teknis tertentu seperti mesin, elektronik, olahraga, IT, berdagang, komunikasi/bahasa, kerajinan, fotografi, berdagang, kuliner, menjahit hingga pada kemampuan human skill/mengatur manusia bahkan keterampilan organisasional dalam mengelola/mengatur berbagai sumberdaya.

(Pada kategori Empat Pilar Pendidikan UNESCO, termasuk kategori Learning to Do.)

Mendidik Manusia Seutuhnya - [Kecerdasan-kecerdasan: 1.Spiritualitas Kesejatian, 2.Etika Nurani, 3.Emosi, 4.Kognitif Intelejensi, 5.Integritas Sosial, 6.Budaya Bangsa, 7.‘Civic Culture – Demokrasi’ Politik, 8.Estetika Seni dan 9. Keterampilan Hidup]/ 4 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar