Sabtu, 10 November 2012

Nahjul Balaghah Berhak Menjadi Solusi Problema Kehidupan dan Mampu Hilangkan Egoisme Dalam Diri Manusia

Ilmu itu cahaya, barang siapa berkeinginan masuk ke dalam Kota/Negeri Cahaya maka harus melalui pintunya, dan pintunya adalah Ali As., tak ada pintu lain, tak ada jalan lain. "Aku adalah kotanya ilmu/negeri hikmah, dan pintunya Ali,"sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Imam Ali bin Abi Thalib As.k
atakan, “Kemenangan diperoleh dengan kebijaksanaan, kebijaksanaan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar ialah yang menyimpan baik-baik segala rahasia.”

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman, “Manusia adalah rahasia-Ku, dan Aku ‘tak lain’ adalah rahasia manusia – Al insanu sirri waanna sirruhu”
Ayatullah Deen Parvar katakan Imam Khomeini belajar dari ‘kitab keabadian’ Nahj Al-Bal√Ęghah. Pada pembukaan kongres Nahjul Balaghah pertama tahun 1980, Imam Khomeini mengatakan bahwa ”Nahjul Balaghah berhak menjadi solusi bagi problema kehidupan dan mampu menghilangkan egoisme dalam diri manusia.”

Tak ada jalan untuk sampai ke puncak ekistensi diri, selain altruism pengorbanan dengan totalitas berkah kemanfaatan ‘energi sosial’ kita, melalui ‘peleburan-penyembelihan ego-ego partikular’ pada jalan kebaktian pelayanaan kehambaan yang penuh kasih bagi misi kenabian: ‘Memayu Hayu Bawono – Merahmat Cinta Kasih Welas Asihi segenap semesta publik – membentangkan potensi Ilahi manusia dan makhluk – membahagiakan seluruh makhluk – Rahmatan lil Alamin’ dan Memayu Hayu Jalmo- memanusiakan manusia – membangun akhlak peradaban – Bu’istu makarimal Akhlak’.

Keadaan tersembelihnya ego-ego partikular, hingga sampai pada puncak transformasi kesadaran ‘Aku Universal’ dalam satu ‘Kemanunggalan Ego Universal Ilahi’ ini tergambarkan pada paparan Ali Syariati tentang inti prosesi ‘Humanisme Haji’.
“Setiap orang meleburkan diri dan mendapat wujud baru sebagai seorang 'manusia'. Semua ego dan sifat ‘partikular’/individual dikubur. Kumpulan manusia ini menjadi satu bangsa atau ummah. Segala keakuan telah mati dan yang ada kini hanyalah 'kita'. Semua haruslah menyatu ke dalam ummah. Akhirnya, “Satu adalah Semua dan Semua adalah Satu.”

Masuklah kita kepada eksistensi Ka'bah, yang ingin kita terbangi, agar dapat berhubungan dengan 'Yang Mutlak' dan 'Abadi', adalah atap untuk perasaan. ”Ini adalah sesuatu yang tak dapat engkau capai di duniamu yang terfragmentasi dan relatif. Semula engkau hanya bisa berfalsafah, tapi kini engkau dapat melihat 'Yang Mutlak', Yang tidak berarah, Dialah Allah. Dia ada dimana-mana.”

Setiap orang mengenakan pakaian khusus. ‘pakaian taqwa’. “Sebagai orang yang disucikan oleh Allah dan menjadi 'keluarga-Nya' maka engkau dimuliakan oleh-Nya. Dia lebih bergairah memperhatikan 'keluarga-Nya' dibanding yang lainnya,” papar Syariati.

Kitab Nahjul Balaghah disiapkan agar masyarakat dapat memiliki pegangan yang baik. Imam Khomeini telah membuktikan bahwa beliau tidak hanya mempelajari tapi juga mempraktikkannya. (Sumber: ejajufri.wordpress.com)

Pondasi Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua – Bhinneka Tunggal Ika”, Mendidik Manusia Seutuhnya – Kecerdasan Spiritualitas Kesejatian dan Etika Nurani. / 9 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar